Zaman Keemasan Islam Era Dinasti Abbasiyah

8 Jan 2011

alexandernevskicathedral1Pemerintahan Dinasti Abbasiyah berhasil didirikan setelah munculnya berbagai pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan Al-Abbas dan para penentang lainnya terhadap kekuasaan Dinasti Bani Umayyah di damaskus. Ketidakberdayaan mengatasi pemberontakan massal yang berkepanjangan menyebabkan tumbangnya Dinasti Bani Umayyah pada tahun 750 M / 132 H dengan dikalahkannya Khalifah Marwan II. Pemberontakan yangpaling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah[1].

Asal-usul dinasti ini dimulai dari seorang bernama Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas. Kakeknya, Al-Abbas, adalah paman Nabi Muhammad. Ia seorang yang loyal terhadap Bani Umayyah. Oleh karena itu, Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-malik memberi kepada Ali sebuah tempat bernama Humayyah, dekat Damaskus. Tempat ini mulanya tenag dan tentram. Namun keadaan ini berubah ketika Muhammad putra Ali, memiliki obsesi untuk meletakkan dasar-dasar kekuasaan dengan cara mempropagandakan perebutan kekuasaan dari Bani Umayyah.


Sebelum daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syiah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan[2].

Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim keseluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya mendukung Bani Umayyah[3].

Setelah Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabubg dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri.

Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Keberhasilan menumbangkan Dinasti bani Umayyah tersebut tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor yaitu, pertama, gencarnya propaganda yang dilakukan oleh Al-Abbas kepada setiap penduduk yang kecewa atas kepemimpinan Dinasti Umayyah. Kedua, makin banyaknya pendukung dari segala lapisan masyarakat terhadap kaum pemberontak sehingga kebencian mereka terhadap bani Umayyah menjadi faktor yang memudahkan mobilisasi massa, dalam hal ini yang merasa diperlakukan tidak adil adalah kaum mawali. Ketiga, pemerintahan Dinasti Bani Umayyah yang dianggap zalim ikut mendorong meningkatnya kebencian terhadap Bani Umayyah oleh kalangan rakyat banyak. Keempat, kelemahan yang di alami oleh pemerintahan Dinasti Bani Umayyah sendiri.

Adapun kelemahan yang kemudian menyebabkan kehancuran Dinasti Bani Umayyah antara lain disebabkan oleh kesibukan melakukan penyebaran Islam ke wilayah-wilayah baru yang cukup menyita waktu dan tenaga sehingga perhatian ke dalam pemerintahan sendiri kurang diutamakan. Kemudian, persaingan di kalangan anggota-anggota keluarga Dinasti Bani Umayyah juga membawa kepada kelemahan kedudukan mereka. Hidup mewah di istana memperlemah jiwa dan vitalitas anak-anak khalifah yang membuat mereka kurang sanggup memikul beban pemerintahan negara yang demikian besar. Kemudian faktor ketidakpuasan golongan mawali, terutama di Provinsi Irak sebelah timur, Karena Dinasti Bani Umayyah terlambat memberikan respons terhadap perubahan sosial yang terjadi yaitu bertambah banyaknya jumlah kaum mawali non-Arab yang setelah tahun 700 Masehi jumlah melebihi kaum muslim Arab. Perlakuan Bani Umayyah terhadap kaum mawali bersifat diskriminatif karena mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua, sementara itu perubahan sistuasi menuju struktur sosial dan politik kosmopolitan yang lebih sesuai dengan realitas umat terus berkembang.

Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya . Pada zaman Dinasti Bani Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I antara lain :

a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

b. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.

c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia .

d. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .

e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah.

Selanjutnya periode II , III , IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat , kecuali pengakuan politik saja . Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya ,dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya Daulah- Daulah kecil, contoh; daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah[4]. Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah . dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi. Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat .

Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu:

1) Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah.

2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah.

Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin olehseorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy. Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan.

Berdasarkan perubahan tersebut, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi 3 periode, yaitu :

1. Periode Pertama (750-847 M)

Pada periode ini, seluruh kerajaan Islam berada di dibawah kekuasaan para Khalifah kecuali di Andalusia. Adapun para Khalifah yang memimpin pada ini sebagai berikut :

a. Abul Abbas as-saffah (750-754 M)

b. Abu Jafar al mansyur (754 775 M)

c. Abu Abdullah M. Al-Mahdi bin Al Mansyur (775-785 M)

d. Abu Musa Al-Hadi (785786 M)

e. Abu Jafar Harun Ar-Rasyid (786-809 M)

f. Abu Musa Muh. Al Amin (809-813 M)

g. Abu Jafar Abdullah Al Mamun (813-833 M)

h. Abu Ishak M. Al Mutashim (833-842 M)

i. Abu Jafar Harun Al Watsiq (842-847 M)

j. Abul Fadhl Jafar Al Mutawakkil (847-861)

2. Periode kedua (232 H/847 M - 590 H/1194 M)

Pada periode ini, kekuasaan bergeser dari sistem sentralistik pada sistem desentralisasi, yaitu ke dalam tiga negara otonom :

a. Kaum Turki (232-590 H)

b. Golongan Kaum Bani Buwaih (334-447 H)

c. Golongan Bani Saljuq (447-590 H)

Dinasti-Dinasti di atas pada akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa Khalifah Abbassiyah.

3. Periode ketiga (590 H/1194 M - 656 H/1258 M)

Pada periode ini, kekuasaan berada kembali ditangan Khalifah, tetapi hanya di baghdad dan kawasan-kawasan sekitarnya. Sedangkan para ahli kebudayaan Islam membagi masa kebudayaan Islam di zaman daulah Abbasiyah kepada 4 masa, yaitu :

1. Masa Abbasy I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Bani Abbasiyah tahun 750 M,

sampai meninggalnya Khalifah al-Wasiq (847 M).

2. Masa Abbasy II, yaitu mulai Khalifah al-Mutawakkal (847 M), sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad (946 M).

3. Masa Abbasy III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun (946 M) sampai masuk kaum Seljuk ke Baghdad (1055 M).

4. Masa Abbasy IV, yaitu masuknya orang-orang Seljuk ke Baghdad (1055 M), sampai jatuhnya Baghdad ke tangan Tartar di bawah pimpinan Hulako (1268 M).

Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlansung dari tahun 750-1258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain :

1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab[5].

2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan Wazir, yang

membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.

3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas.

Sebelumnya belum ada tentara Khusus yang profesional.


[1] Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, hal 27

[2] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, hal 14

[3] Philip K Hitti, History of Arab

[4] Bawono Kumoro,”Hamas, Ikon Perlawanan Islam Terhadap Zionisme Israel, hal 34

[5] Anton Wessels, Arab dan Kristen, hal 187



TAGS


-

Author

Follow Me