Teori Gerakan Sosial oleh beberapa sumber

8 Jan 2011

gerakan-shalatTeori mobilisasi sumber daya menguasai lapangan ketika ia mengalahkan teori psikologi sosial dan teori perpecahan, teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya atau pendekatan eropa dan Amerika satu sama lain saling bertanding. Teori proses-proses politik mengambil alih lapangan dan psikologi sosial kemblai ke pusat perhatian ketika pendekatan kontruksi sosial mulai mendapatkan perhatian.
Theory Bashing menjadi praktik umum di dalam literatur gerakan dan mulai mempertanyakan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Pada kenyataannya gerakan sosial bisa di picu oleh ketidakpuasan yang timbul belum lama berselang, oleh sumber daya yang tersedia, oleh peluang yang berubah, dan oleh rekontruksi sosial tentang makna. Tetapi, dengan mengabaikan semua itu, pertanyaan tentang individu yang mencoba mengukur situasinya kemudian memutuskan untuk berpatisipasi atau tidak, masih tetap relevan. Jadi, selalu ada kebutuhan penjelassan psikologi sosial tentang protes. Artinya, masih harus ditetapkan bagaimana psikologi sosial dapat dihubungkan dengan teori-teori tentang gerakan sosial.

Pendekatan teoritis yang berbeda-beda dalam gerakan sosial memiliki empat faktor pada penekanannya yaitu
Ketidakpuasan
Sumber daya
Peluang politis
Proses-proses konstruksi pemaknaan
Gerakan sosial telah di konseptualisasikan sebagai epifernomena dari societal breakdown (perpecahan masyarakat), sebagai kegiatan politik dengan cara lain, atau sebagai kolektivitas di dalam pencarian identitas baru. Penekanan pada faktor ketidakpuasan bersesuaian dengan teori perpecahan breakdown theory, sumber daya dan peluang politis cocok dengan pandangan tentang gerakan sosial sebagai kegiatan politik dengan cara lain, kemudian konstruksi makna dan pembentukan identitas adalah konsep serumpun.
Perpecahan Masyarakat
Teori-teori perpecahan (breakdown theory) mendasarkan nama mereka pada asumsi dasar bahwa gerakan sosial adalah epifenomena dari perubahan sosial dan dari keruskan tatanan sosial serta kerusakan pertalian yang berhubungan dengan perubhan sosial. Teori ini berhubungan dengan konsep-konsep semacam strain (ketegangan), stress (stres), mass society (massa), emotion (emosi), irrationality (ketidakrasioanal), contagion(penularan perasaan), alienation (ketersinagn), frustation (frustasi) atau realtive deprivation (deprivasi realatif).
Teori perilaku menyebutkan enam tahap spesifik yang harus berkombinasi menurut pola tertentu, logika nilai tambah (value added logic), untuk menghasilkan suatu aksi kolektif. Setiap tahap di dalam proses penambahan nilai merupakan kondisi yang di dalam proses penambahan nilai merupakan kondisi yang dibutuhkan untuk menambah apropriasi dan efektivitas nilai tersebut pada tahap berikutnya. Kondisi yang dianggap mencukupi adalah kombinasi semua kondisi yang dibutuhkan. Keenam tahap itu adalah
a. Konduktivitas struktural, yaitu karakteristik-karakteristik tata letak tempat aksi sosial berlangsung yang mendukung jenis perilaku kolektif tertentu, tetapi tidak mendukung jenis perilaku kolektif lainnya.
b. Ketegangan struktural, mengacu pada sesuatu yang salah di dalam lingkungan masyarakat.
c. Perkembangan dan penyebaran keyakianan yang tergeneralisasi .
d. Faktor-faktor pencetus (precipitating factors), kejadian yang membuat reaksi oleh banyak pihak.
e. Mobilisasi peserta untuk emlakukan aksi.
f. Berlakunya kontrol sosial yaitu proses yang berjalan baik pada semua tahap.
Keenam tahap itu dielaborasikan lebih lanjut di dalam theory of collective Behavior dan daripada menerapkan pada bentuk-bentuk perilaku yang berbeda.
Deprivasi relatif, terus terang dan tegas memnolak, orang memberontak sebagai respons terhadap ketidakadilan yang di rasakan, bentuk deprivasi dapat dibedakan berdasarkan pola-pola perubahan yaitu:
1. Deprivasi Aspirasional
2. Deprivasi Persisten
3. Deprivasi Dekremental
4. Deprivasi Progresif
ada tiga kelompok faktor yang mempengantarai potensi untuk kekerasan politik dan kekerasan politik aktual yaitu justifikasi normatif untuk kekerasan, justifikasi kemanfaatan untuk kekerasan, dan keseimbangan antara sumber-sumber daya koersif dan institusional dari pemberentak dengan negara. Dengan kata lain, kemunculan kerangka ketidakadilan yang timbul dari kondisi-kondisi objektif harus dijelaskan dan tidak boleh dianggap bahwa memang seharusnya demikianlah yang terjadi.
Teori psikologi sosial tentang gerakan sosial menurut Toch, merasakan masalah saja tidak cukup, seorang harus mengembangkan kepekaan tertentu terhadap daya tarik gerakan sosial. Teori-teori yang mendefinisikan gerakan sosial lebih sebagai gejala ketegangan daripada sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan politis.

Berpolitik dengan cara-cara lain
Teori mobilisasi sumber daya dan proses politik berangkat dari asumsi bahwa pemberontakan merupakan sejumlah aksi kolektif rasional yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tersingkirkan untuk menyatakan kepentingan mereka. Masyarakat yang merasa tidak puas melakukan suatu protes di karekan tiga hal yaitu pada tingkat individual keruguian dan manfaat dalam partisipasi, Kemudian di tingkat masyarakat pada ketersediaan sumber daya, di tingkat politik pada keberadaan atau perubahan peluang-peluang politis.

Mencari Identitas
Gerakan-gerakan sosial tidak dipandang sebagai kegiatan politik dengan cara lain, tetapi sebagai orang-orang yang mencari identitas kolektif baru. Kontruksi sosial tentang makna, pembentukan identitas, dan wacana publik semuanya adalah konsep yang masih berhubungan dengan pendapat lain tentang gerakan sosial. Pendapat dimana ketidakpuasan, sumberdaya, peluang dan batas-batas identitas tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa tetapi dapat di konstruksikan secara sosial. Pendapat dimana interpretasi ketidakpuasan, ideologi, identitas dan kultur gerakan sekali lagi memainkan peran sangat penting.

Ketiga pendekatan yang telah diuraikan saling melengkapi daripada saling berkompetisi, yang jelas bahwa ketidakpuasan senidri bukan merupakan alasan yang cukup bagi gerakan sosial untuk berkembang, atau bagi individu untuk berpartisipasi di dalam gerakan sosial. Yang pasti, sumber daya dan peluang penting untuk memahami mengapa populasi tertentu yang mengalami ketidakpuasan melakukan mobilisasi, sementara yang lainnya tidak. Individu-individu memang membentuk identitas yang sama ketika mereka bersama-sama berbagi ketidakpuasan dan bertindak secara kolektif. Tetapi, ini tidak berarti menjustifikasi hak eklusif apa pun dari ranah ini. Sebaliknya, masing-masing pendekatan itu terpisah akan kurang berarti sebagai kerangka eksplanatoris bagi penelitian tentang gerakan sosial.


TAGS


-

Author

Follow Me